Banyak orang masih percaya bahwa salah satu kunci utama investasi properti adalah lokasi.
Kalau lokasinya strategis, dekat jalan besar, berada di kawasan berkembang, dikelilingi pusat perbelanjaan, atau dekat dengan akses tol, maka properti tersebut dianggap hampir pasti akan menguntungkan.
Masalahnya, lokasi strategis tidak otomatis berarti investasi yang strategis.
Sebuah properti bisa berada di lokasi yang sangat ramai, tetapi tetap menghasilkan imbal hasil yang rendah. Sebaliknya, aset yang terlihat biasa saja bisa memberikan keuntungan lebih baik karena memiliki karakteristik pasar, harga masuk, dan potensi pengembangan yang lebih tepat.
Di sinilah banyak investor properti melakukan kesalahan.
Mereka membeli berdasarkan apa yang terlihat, bukan berdasarkan apa yang sebenarnya dapat dihasilkan oleh aset tersebut.
Lokasi Bagus Bukan Berarti Asetnya Bagus
Bayangkan ada dua properti.
Properti pertama berada di jalan utama dengan lalu lintas kendaraan yang sangat tinggi. Di sekelilingnya terdapat restoran, pusat perbelanjaan, perkantoran, dan berbagai fasilitas publik.
Properti kedua berada sedikit lebih jauh dari jalan utama. Kawasannya belum terlalu ramai, tetapi sedang berkembang menjadi kawasan hunian baru dan memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap fasilitas komersial.
Mana yang lebih baik?
Tidak ada jawaban yang bisa diberikan hanya dari melihat lokasinya.
Investor perlu mengetahui siapa yang akan menggunakan properti tersebut, berapa harga yang harus dibayar, berapa pendapatan yang mungkin dihasilkan, berapa biaya pengembangannya, dan bagaimana prospek aset tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Artinya, lokasi hanyalah salah satu variabel dalam keputusan investasi.
Kesalahan Pertama: Terlalu Terpaku pada “Lokasi Strategis”
Istilah “lokasi strategis” sering digunakan dalam pemasaran properti.
Dekat tol disebut strategis.
Dekat mal disebut strategis.
Dekat stasiun disebut strategis.
Dekat kawasan perkantoran disebut strategis.
Namun, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Strategis untuk siapa?
Lokasi yang sangat baik untuk apartemen belum tentu baik untuk gudang.
Lokasi yang cocok untuk hotel belum tentu cocok untuk pusat pendidikan.
Lokasi yang bagus untuk restoran belum tentu ideal untuk perumahan.
Setiap jenis properti memiliki karakteristik pasar yang berbeda.
Karena itu, investor seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apakah lokasinya bagus?”
Tetapi melanjutkannya menjadi:
“Apakah lokasi ini cocok dengan fungsi dan model bisnis yang ingin saya jalankan?”
Perbedaan pertanyaan tersebut terlihat sederhana, tetapi dapat menghasilkan keputusan investasi yang sangat berbeda.
Kesalahan Kedua: Membeli Aset Sebelum Mengetahui Pasarnya
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah investor menemukan properti terlebih dahulu, kemudian baru mencari tahu apakah ada pasar untuk properti tersebut.
Urutannya seharusnya tidak selalu demikian.
Investor perlu memahami terlebih dahulu:
- siapa target konsumennya,
- berapa besar permintaannya,
- bagaimana karakteristik konsumennya,
- berapa tingkat persaingannya,
- berapa harga yang dapat diterima pasar,
- bagaimana tren pertumbuhannya,
- dan apakah kebutuhan tersebut bersifat sementara atau berkelanjutan.
Misalnya, sebuah lokasi terlihat sangat ramai.
Namun, ternyata sebagian besar orang yang melintas hanyalah pengguna jalan dan bukan target konsumen dari bisnis yang akan dibangun.
Secara visual lokasi tersebut terlihat menarik.
Secara bisnis, belum tentu.
Ramai tidak selalu berarti ada permintaan.
Kesalahan Ketiga: Membayar Terlalu Mahal
Properti yang bagus tetap bisa menjadi investasi yang buruk apabila dibeli dengan harga yang terlalu tinggi.
Ini salah satu prinsip paling penting dalam investasi.
Investor sering kali terlalu fokus pada pertanyaan:
“Apakah properti ini akan naik harga?”
Padahal pertanyaan lainnya adalah:
“Berapa harga yang seharusnya saya bayar hari ini?”
Jika sebuah aset dibeli terlalu mahal, potensi kenaikan harga di masa depan belum tentu mampu menghasilkan return yang menarik.
Contohnya sederhana.
Sebuah aset dibeli dengan harga Rp10 miliar. Investor memperkirakan nilainya akan menjadi Rp12 miliar dalam beberapa tahun.
Sekilas terlihat ada potensi keuntungan Rp2 miliar.
Namun investor masih harus memperhitungkan biaya transaksi, pajak, renovasi, biaya operasional, biaya pembiayaan apabila menggunakan pinjaman, serta opportunity cost dari modal yang digunakan.
Keuntungan nominal tidak selalu sama dengan keuntungan investasi.
Karena itu, harga beli harus dilihat dalam konteks potensi pendapatan dan tingkat pengembalian investasi.
Kesalahan Keempat: Hanya Melihat Capital Gain
Ada investor yang membeli properti hanya karena percaya harga tanah akan terus naik.
Strategi ini memang dapat berhasil dalam kondisi tertentu.
Namun, mengandalkan capital gain semata membuat investor sangat bergantung pada perubahan harga pasar.
Padahal properti dapat menghasilkan nilai melalui berbagai cara.
Misalnya:
- pendapatan sewa,
- pendapatan operasional,
- pengembangan bangunan,
- perubahan fungsi,
- peningkatan produktivitas lahan,
- atau kombinasi beberapa strategi tersebut.
Sebuah tanah kosong, misalnya, mungkin memiliki nilai tertentu ketika hanya dibiarkan.
Tetapi setelah dianalisis lebih lanjut, tanah tersebut mungkin memiliki potensi dikembangkan menjadi ruko, gudang, kos, hotel, fasilitas komersial, atau bentuk properti lainnya.
Artinya, nilai sebuah aset tidak selalu berhenti pada kondisi aset saat ini.
Kesalahan Kelima: Tidak Menghitung Cash Flow
Properti sering dianggap sebagai investasi yang aman karena memiliki aset fisik.
Namun, aset fisik tetap membutuhkan uang.
Ada biaya perawatan.
Ada pajak.
Ada biaya operasional.
Ada biaya renovasi.
Ada risiko kekosongan.
Ada biaya pemasaran.
Dan jika menggunakan pembiayaan bank, ada kewajiban pembayaran cicilan.
Karena itu, investor perlu memahami bagaimana arus kas properti tersebut.
Properti dengan nilai Rp20 miliar belum tentu lebih menarik daripada properti Rp10 miliar.
Jika aset Rp20 miliar menghasilkan cash flow yang rendah, sementara aset Rp10 miliar memiliki tingkat okupansi dan pendapatan yang lebih baik, maka aset yang lebih murah justru bisa memberikan return yang lebih menarik.
Nilai aset dan kualitas investasi adalah dua hal yang berbeda.
Kesalahan Keenam: Mengabaikan Kompetitor
Investor terkadang melihat sebuah kawasan sedang berkembang lalu langsung menyimpulkan bahwa membeli properti di kawasan tersebut merupakan keputusan yang tepat.
Padahal kawasan yang berkembang biasanya juga menarik perhatian investor lain.
Akibatnya, kompetisi bisa meningkat.
Misalnya, dalam satu kawasan akan dibangun banyak proyek:
- apartemen,
- hotel,
- pusat kuliner,
- ruko,
- pusat perbelanjaan,
- dan ruang komersial lainnya.
Pertanyaannya bukan hanya apakah kawasan tersebut berkembang.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah pasar mampu menyerap seluruh tambahan pasokan tersebut?
Jika supply tumbuh lebih cepat daripada demand, tingkat hunian dapat tertekan dan harga sewa dapat sulit berkembang.
Kawasan berkembang tetap bisa menghasilkan investasi yang buruk apabila investor masuk pada waktu yang salah atau pada segmen yang terlalu jenuh.
Kesalahan Ketujuh: Tidak Melihat Regulasi dan Tata Ruang
Ini adalah aspek yang sering dianggap teknis, tetapi dapat menentukan masa depan sebuah investasi.
Sebuah lahan mungkin terlihat sangat menarik secara lokasi.
Namun, belum tentu semua jenis pengembangan dapat dilakukan di atas lahan tersebut.
Investor perlu memperhatikan berbagai aspek seperti:
- peruntukan lahan,
- tata ruang,
- aksesibilitas,
- ketentuan pembangunan,
- intensitas pemanfaatan lahan,
- legalitas aset,
- dan berbagai regulasi lain yang relevan.
Kesalahan dalam memahami aspek tersebut dapat menyebabkan investor membeli aset yang ternyata memiliki keterbatasan pengembangan.
Dalam investasi properti, tanah yang terlihat murah belum tentu murah jika ternyata sulit dikembangkan.
Kesalahan Kedelapan: Terlalu Percaya pada Cerita Penjual
“Daerah ini sebentar lagi akan berkembang.”
“Katanya akan ada proyek besar.”
“Sebentar lagi ada jalan baru.”
“Harga tanah di sini pasti naik.”
Kalimat seperti ini sangat mudah ditemukan dalam transaksi properti.
Masalahnya bukan apakah informasi tersebut benar atau salah.
Masalahnya adalah:
Apakah informasi tersebut sudah diverifikasi?
Investor sebaiknya membedakan antara fakta, asumsi, dan rumor.
Sebuah rencana pembangunan infrastruktur yang belum pasti tentu berbeda dengan proyek yang sudah memiliki kepastian pelaksanaan.
Begitu juga dengan klaim mengenai potensi harga.
Investasi tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan cerita yang terdengar menarik.
Jadi, Bagaimana Cara Menilai Properti dengan Lebih Rasional?
Investor dapat melihat properti melalui beberapa lapisan analisis.
1. Analisis Pasar
Pertama, pahami kondisi pasar.
Berapa besar demand?
Siapa konsumennya?
Bagaimana pertumbuhan pasar?
Siapa kompetitornya?
Bagaimana tren harga dan tingkat okupansi?
2. Analisis Lokasi
Setelah itu, analisis lokasi secara lebih spesifik.
Bukan hanya jaraknya dari jalan besar, tetapi juga:
- akses,
- visibilitas,
- konektivitas,
- karakter lingkungan,
- demografi,
- aktivitas ekonomi,
- dan kesesuaian dengan fungsi properti.
3. Analisis Highest and Best Use
Satu lahan dapat memiliki beberapa kemungkinan pemanfaatan.
Pertanyaannya:
Pemanfaatan mana yang paling optimal secara legal, fisik, pasar, dan finansial?
Inilah konsep yang dikenal sebagai Highest and Best Use (HBU).
Dengan pendekatan ini, investor tidak hanya bertanya “properti ini bagus atau tidak?”, tetapi mencoba menemukan pemanfaatan terbaik dari aset tersebut.
4. Analisis Finansial
Kemudian hitung kelayakan finansial.
Beberapa indikator yang umum digunakan antara lain:
- Net Present Value (NPV),
- Internal Rate of Return (IRR),
- Payback Period,
- Profitability Index,
- cash flow,
- serta sensitivitas terhadap perubahan asumsi.
Tujuannya bukan sekadar mencari angka return tertinggi.
Investor juga perlu memahami seberapa sensitif investasi tersebut terhadap perubahan kondisi pasar.
Bagaimana jika harga jual turun?
Bagaimana jika biaya pembangunan naik?
Bagaimana jika okupansi lebih rendah dari proyeksi?
Bagaimana jika proyek mengalami keterlambatan?
Di sinilah analisis sensitivitas menjadi penting.
Properti yang Bagus Harus Lulus Lebih dari Satu Ujian
Pada akhirnya, investasi properti bukan hanya tentang membeli aset yang terlihat menarik.
Sebuah keputusan investasi yang baik harus mampu menjawab beberapa pertanyaan sekaligus:
Apakah pasarnya ada?
Apakah lokasinya sesuai?
Apakah harganya masuk akal?
Apakah aset tersebut dapat dikembangkan secara optimal?
Apakah cash flow-nya sehat?
Apakah return-nya sepadan dengan risikonya?
Dan yang tidak kalah penting:
Apa yang terjadi jika asumsi terbaik ternyata tidak terjadi?
Investor yang hanya melihat lokasi mungkin akan mendapatkan properti yang bagus.
Tetapi investor yang melihat pasar, harga, penggunaan, cash flow, risiko, dan potensi pengembangan secara bersamaan memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan investasi yang benar-benar baik.
Karena pada akhirnya, properti yang bagus belum tentu menjadi investasi yang bagus.
Yang membuat sebuah properti menjadi investasi menarik bukan hanya tempatnya berada, tetapi bagaimana aset tersebut menghasilkan nilai dibandingkan dengan modal dan risiko yang harus ditanggung investor.
Dan di situlah perbedaan antara sekadar membeli properti dan berinvestasi secara strategis.
baca juga jasa sebar kuesioner